BGN Bali Siapkan Strategi Khusus Perluasan Program Makan Bergizi Gratis untuk Anak Jalanan

Koordinator BGN Bali Risca Christina. (Dok. Ist)

Faktamakassar.id, NASIONAL – Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Bali, Risca Christina, menyoroti tantangan teknis dalam rencana perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sesuai arahan pemerintah pusat, target penerima manfaat program ini akan diperluas hingga mencakup anak jalanan, pemulung, lansia, dan masyarakat kategori miskin.

Risca menilai bahwa distribusi logistik untuk anak jalanan memerlukan perhatian khusus. Berbeda dengan siswa di sekolah, keberadaan anak jalanan di Bali cenderung tersebar dan berpindah-pindah. Oleh karena itu, diperlukan kepastian lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terdekat yang mudah dijangkau oleh mereka.

“Betul tantangan baru, kekhawatiran kami anak jalanan itu ada yang bergerombol di sini ada sebagian di tempat lain, jadi kami pikirkan kembali agar mereka bisa bergerombol di satu tempat,” kata Risca di Denpasar, Jumat.

Sentralisasi titik kumpul ini dinilai penting untuk memudahkan pengawasan agar bantuan pangan yang diberikan tepat sasaran dan tidak salah alamat.

“Itu biar lebih mudah dan kami juga gampang memonitor apakah pemberiannya benar ke anak jalanan, tepat sasaran atau tidak,” tambahnya.

Kolaborasi Data dengan Dinas Sosial

Hingga saat ini, BGN Bali masih dalam tahap penyusunan strategi dan menunggu petunjuk teknis lebih lanjut dari pusat terkait pendataan. Risca mengakui pihaknya belum melakukan pendataan mandiri dan memilih untuk berkolaborasi dengan instansi terkait yang memiliki basis data lebih valid.

“BGN Bali sedang melakukan koordinasi juga dan mencari tahu data riil, mungkin kami akan berkolaborasi dengan Dinas Sosial, karena data mereka lengkap,” jelas Risca.

Perhatian Khusus Gizi Penyandang Disabilitas

Selain anak jalanan, penyandang disabilitas juga menjadi target penerima manfaat. Risca menekankan bahwa kebutuhan gizi kelompok ini berbeda dengan siswa sekolah pada umumnya. Oleh karena itu, pelibatan ahli gizi dalam setiap SPPG menjadi sangat krusial.

“Kalau disabilitas juga tidak boleh sembarangan, mungkin nanti di dalam satu SPPG ada ahli gizi bisa dibantu untuk melakukan pertimbangan atau penghitungan angka kecukupan gizi mereka, karena ada beberapa disabilitas tidak boleh kelebihan tepung, garam dan lain sebagainya,” ujarnya.

Untuk penyandang disabilitas, BGN Bali berencana menjalin kerja sama dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) guna memastikan paket makanan tersalurkan dengan baik.

Di luar rencana ekspansi target tersebut, BGN Bali saat ini tengah fokus menyasar 507 ribu penerima harian Program Makan Bergizi Gratis, yang terdiri dari siswa sekolah dan kelompok prioritas lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *